Ahad, 6 Januari 2013

Bukan perasaan, tapi IMAN

Sedaya upaya, saya menahan marah. Sungguh! Begitu kuat ia membuak. Setiap kali perasaan marah itu datang, cepat-cepat saya mengingatkan diri ; kau mesti tak mahu kalau Allah marah kamu kan? Jadi, jangan marah orang.

Kemudian, saya sendirian bungkam. Disebabkan 'tidak boleh' marah, maka perasaan tersebut bertukar menjadi pendam atau 'dendam'. Ia tertanam dan kemudian tumbuh mencengkam. Setiap kali saya berpeluang untuk membalasnya, saya akan balas.

Buruk kan? Tapi itu sajanya cara untuk keadaan menjadi lebih stabil. Itu lebih baik dari saya balas dendam cara jahat gila.

Tapi, musim muhasabah datang. Hati saya meronta mohon dibuang kesumat dendam sia-sia itu. Hati memohon agar pintu kemaafan dibuka. Dia kata,

"Sila buka luas-luas pintu kemaafan tersebut sepertimana kamu mahu Allah membuka seluas-luasnya pintu rahmat keampunanNya ke atas kamu!"

Dan sekian kali, air mata mengalir deras. Mengenangkan segala keperitan yang dialami, yang ditahan selama ini demi menjaga hati orang lain dengan hati sendiri yang tertusuk luka. Allah, begitu susah rupanya hati saya untuk memberi maaf. Kenapakah duhai diri? Kenapa begitu keras sekali menanggapi manusia? Kenapa tidak boleh menerima hakikat sakitnya bergaul dengan manusia?

"Hak orang lain, sedaya upaya kita tunaikan. Hak kita? Biar Allah yang tunaikan." :)

Sudahlah Yang, hati kau tak mampu dibebani perkara sebegini. Lepaskanlah, kerana kebaikan pasti kau dapati dengan memberi kemaafan. Cukuplah Yang, jangan diulang tingkah laku memberontak itu. Buruk sebagai mukmin. Cukup dan cukup, kemudian berserahlah pada Allah. Biar Allah tunaikan untukmu dengan caraNya.

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
Wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali;
"Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara."


Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
Bertafakur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
Melantunkan kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia


-Petikan Dalam Dekapan Ukhuwah, A. Salim Fillah

Tiba masanya, kau harus bergerak sendiri, berpendapat sendiri, bebas dan tidak menjadi lalang. Mungkin tiba masanya, kau harus melepaskan pergi kepahitan walaupun di sebalik kepahitan tersebut, ada manisnya yang membuat kau lupa pada luka. Mungkin setakat ini saja perjalanannya. Mungkin ini yang terbaik buat kamu dan orang lain. Mungkin sudah sampai waktu kau berbuat sesuatu bukan untuk perhatian manusia tapi untuk Allah. Mungkin sudah tiba waktu kau hadkan suara dan mula diam buat kerja!


Yang tercalar sebenarnya bukan perasaan tapi Iman. Iman yang tercalar, bakal mencalarkan hati dan perasaan. Kerana rukunnya orang beriman itu bersaudara, berpesan-pesan atas kebenaran dan penuh kesabaran. Bersabarlah, moga Allah balas kesabaran kamu bergaul dengan manusia dengan sesuatu yang tidak kamu jangka. :)
.
.
.

7 ulasan:

  1. mehnah..andai ianya mudah..
    semoga terus tabah ^^,

    BalasPadam
    Balasan
    1. terima kasih. maaf, banyak memberontak mingu-minggu akhir ni. =.=

      Padam
  2. kak yang.. lama x sembang2.. T_T

    BalasPadam
  3. "Yang tercalar sebenarnya bukan perasaan tapi Iman"
    Allah! )'=

    *nanges.

    jazakillahu khairan jaza' (=

    BalasPadam
    Balasan
    1. afwan, sekadar memuntahkan apa yang terbungkam.

      Padam
  4. http://tarbawi.my/index.php/en/inspirasi/manhaj-dakwah/263-jangan-merajuk-wahai-daie

    BalasPadam

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...